JAKARTA — Panggung musik independen kembali mempertemukan beragam karakter musik dalam Kurasi Musik Vol. 69 yang digelar Minggu malam, 20 September 2026, di Bowl Coffee Connection, Jalan Asem Baris Raya No. 1, Tebet, Jakarta Selatan.
Empat penampil membawa warna berbeda sepanjang acara. Mulai dari punk rock dengan akar musik era 1980-an, nostalgia rock awal 1990-an, hard rock berenergi tinggi, hingga Sirkus Suara yang menutup acara dengan materi yang mendapat perhatian khusus dari para kurator dan penonton.
Panic Buka Panggung dengan Punk Roots
Panic menjadi penampil pertama. Trio punk rock ini membuka acara dengan karakter yang langsung terasa sejak lagu pertama.

Alih-alih membawa formula punk melodic yang banyak berkembang dalam beberapa tahun terakhir, Panic memilih pendekatan yang lebih dekat dengan akar punk era 1980-an. Permainan musik mereka terdengar solid, kencang, dan mengutamakan attitude yang menjadi bagian penting dari karakter punk.
Energi tersebut langsung terasa sejak awal penampilan dan menjadi pembuka yang cukup keras untuk Kurasi Musik Vol. 69.
Inggit Hadirkan Nostalgia Lady Rocker
Setelah energi punk, suasana berganti ketika Inggit, solois asal Bogor, naik ke panggung.

Penggemar almarhumah Nike Ardilla ini membawa nuansa rock perempuan yang lekat dengan era awal 1990-an. Karakter vokalnya menjadi salah satu kekuatan utama dalam penampilannya.
Meski membawa atmosfer nostalgia, Inggit tidak sekadar mengulang formula masa lalu. Ia memberikan interpretasi sendiri sehingga nuansa rock klasik tersebut tetap terasa relevan ketika dibawakan di panggung kurasi musik independen.
“Music with Attitude” Jadi Ruang Diskusi
Selain pertunjukan musik, Kurasi Musik Vol. 69 juga menghadirkan sesi talkshow bertajuk “Music with Attitude”.
MC Dayat Madani memandu perbincangan bersama tiga kurator malam itu, yakni Phanoz D’Avery, Ully Dalimunthe, dan Edmond Kemur.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah penonton turut merespons dan menyampaikan pandangan selama sesi berlangsung. Pembahasan tersebut menjadi jeda yang memberi ruang bagi musisi dan penonton untuk melihat musik tidak hanya dari sisi pertunjukan, tetapi juga sikap dan karakter yang dibawa seorang musisi.
Starlinkz Panaskan Panggung dengan Hard Rock
Panggung kembali memanas lewat penampilan Starlinkz.
Band rock ini membawa energi hard rock dengan tensi tinggi. Karakter permainan yang enerjik dan nuansa rebel menjadi bagian yang menonjol sepanjang penampilan.

Starlinkz tampil tanpa banyak basa-basi. Energi panggung menjadi modal utama mereka untuk menjaga suasana tetap panas menjelang penampilan terakhir.
Sirkus Suara Tutup Acara dengan Materi yang Mencuri Perhatian
Sirkus Suara mendapat giliran terakhir sekaligus menjadi salah satu penampil yang paling mendapat perhatian pada malam tersebut.
Materi yang dibawakan terdengar segar dengan pengemasan yang dinilai sudah matang. Perpaduan antara lagu, penampilan, dan cara mereka membangun identitas panggung membuat Sirkus Suara meninggalkan kesan kuat sebagai penutup.
Respons tersebut bahkan terlihat dari para kurator yang memberikan standing applause setelah penampilan mereka.

Perhatian tidak berhenti di dalam ruang pertunjukan. Seorang penonton yang diketahui merupakan promotor sekaligus produser senior turut mengambil mikrofon dan menyampaikan ketertarikannya terhadap materi yang dibawakan Sirkus Suara.
Momen tersebut menjadi salah satu catatan menarik dari Kurasi Musik Vol. 69, terutama bagi band yang sedang mencari ruang untuk memperkenalkan karya kepada pelaku industri musik.
Panggung untuk Karya, Bukan Sekadar Penampilan
Kurasi Musik Vol. 69 kembali menunjukkan bagaimana panggung independen dapat menjadi ruang pertemuan antara musisi, penonton, kurator, dan pelaku industri.
Empat penampil malam itu membawa pendekatan berbeda. Panic datang dengan punk roots, Inggit menghadirkan karakter rock bernuansa nostalgia, Starlinkz membawa hard rock berenergi tinggi, sementara Sirkus Suara menutup acara dengan materi yang mendapat respons langsung dari penonton dan kurator.

Vol. 69 pun kembali menegaskan fungsi kurasi: membuka ruang bagi musisi independen untuk memperdengarkan karya mereka secara langsung dan menemukan kemungkinan baru setelah turun dari panggung.
Kurasi Musik akan kembali digelar pekan berikutnya dengan cerita dan penampil yang berbeda.





