EventNews

Pestapora 2025: Pesta Musik Berujung Polemik

Avatar photo
424
×

Pestapora 2025: Pesta Musik Berujung Polemik

Sebarkan artikel ini

MUSIX.BIZ.ID – Festival musik Pestapora 2025 yang digelar 5–7 September di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, awalnya digadang sebagai pesta musik terbesar tahun ini. Namun, antusiasme berubah jadi polemik setelah terungkap bahwa PT Freeport Indonesia menjadi salah satu sponsor utama. Kontroversi ini memicu gelombang protes hingga belasan band dan musisi membatalkan penampilan mereka.

Isu bermula saat publik mengetahui logo Freeport muncul dalam rangkaian acara. Banyak pihak menilai kehadiran perusahaan tambang itu bertentangan dengan nilai-nilai sosial dan lingkungan yang sering dibawa komunitas musik independen. Akibatnya, muncul gelombang kritik di media sosial hingga tagar #PestaporaTanpaFreeport viral.

Sejumlah nama besar di dunia musik Indonesia resmi mundur dari Pestapora 2025. Beberapa di antaranya:

  • Hindia dan .Feast – menyebut diri “patah hati dan marah” begitu tahu ada sponsor Freeport.
  • Durga – sempat berteriak di panggung: “Free Palestine! Free West Papua! Copless Future!” sebelum mengumumkan mundur.
  • Negatifa – menegaskan lewat pernyataan resmi: “Kami tetap mundur, panjang umur perlawanan.”
  • Leipzig & Rengrengan – menulis di media sosial: “Kami memutuskan untuk mundur dari Pestapora 2025.”
  • Band lainnya termasuk Navicula, Sukatani, Rebellion Rose, Kelelawar Malam, Rekah, Ornament, Xin Lie, Bilal Indrajaya, hingga Petra Sihombing.

Baskara Putra (Hindia) bersama .Feast menulis, “Kami kecewa dan patah hati saat tahu Freeport menjadi sponsor. Kami memutuskan mundur dari Pestapora 2025.”

Robi Navicula menambahkan alasan serupa, menyebut keputusannya diambil demi “ketegasan sikap.” Sementara itu, rapper Yacko tetap tampil tetapi mendonasikan seluruh honornya ke WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) sebagai bentuk protes.

Festival director Kiki Aulia Ucup dari Boss Creator menyampaikan permintaan maaf. Ia menegaskan kontrak dengan Freeport sudah diputus dan tidak ada aliran dana sponsor yang masuk ke penyelenggara.

“Kami akan terus belajar, mendengarkan, dan memperhatikan masukan kalian semua. Pestapora tetap berlangsung, meski beberapa artis batal tampil,” ujar Ucup.

Media sosial penuh dengan kritik. Sebuah aksi dua pegawai Freeport membawa spanduk “Tembaga Ikutan Berpestapora” di lokasi festival makin memperkeruh suasana. Publik mengecam aksi tersebut dan menyebut Freeport sebagai simbol perampasan sumber daya di Papua.

Pestapora 2025 akhirnya tetap berjalan dengan lineup baru, tapi nuansanya berbeda. Festival yang seharusnya jadi ruang euforia musik justru berubah menjadi panggung perlawanan terhadap isu lingkungan, politik, dan etika sponsor. Polemik ini menunjukkan bahwa musik di Indonesia tak hanya soal hiburan, tapi juga soal sikap.