NewsRelease

Dokudokuroro Rilis “MELOYA” di Bulan Kemerdekaan, Suarakan Protes Sosial-Politik

Avatar photo
67
×

Dokudokuroro Rilis “MELOYA” di Bulan Kemerdekaan, Suarakan Protes Sosial-Politik

Sebarkan artikel ini

MUESIX.BIZ.ID — Momentum bulan Kemerdekaan Indonesia menjadi pilihan Dokudokuroro untuk meluncurkan single terbaru berjudul “MELOYA”. Dirilis melalui label Vox Veritatis, lagu alternative rock ini hadir sebagai ekspresi keresahan sekaligus protes terhadap kondisi sosial dan politik Indonesia saat ini.

Ditulis dan dikomposisikan oleh Sandi Sundaya, “MELOYA” membawa karakter alternative rock dengan atmosfer marah dan intens. Secara musikal, lagu ini bergerak dalam nuansa yang mengingatkan pada warna sonic Nine Inch Nails, Soundgarden, hingga Incubus, namun tetap mempertahankan identitas Dokudokuroro melalui lirik berbahasa Indonesia.

Sebagai lagu protes, “MELOYA” berbicara secara langsung mengenai kekuasaan, akuntabilitas, serta ruang aspirasi publik yang dinilai semakin menyempit. Keresahan tersebut kemudian dipertegas melalui refrain yang menjadi salah satu bagian paling menonjol dalam lagu:

“Aspirasi langsung dihabisi, tak terbukti tapi dihakimi.”

Kalimat tersebut berulang seperti sebuah seruan, memperkuat posisi “MELOYA” sebagai karya yang tidak sekadar menawarkan musik, tetapi juga membawa kritik terhadap realitas sosial-politik.

Menariknya, pada bagian coda, Dokudokuroro memperluas pesan lagu melalui lirik berbahasa Inggris:

“Who controls the voice? Who controls the floor? It’s a broken system, burning inside.”

Peralihan bahasa tersebut memberikan dimensi yang lebih universal terhadap isu yang diangkat, terutama mengenai pertanyaan tentang siapa yang memiliki kendali atas suara publik dan bagaimana sebuah sistem dapat kehilangan arah.

Bagi Sandi Sundaya, “MELOYA” bukanlah sebuah jawaban atas persoalan yang ada. Lagu ini justru menjadi bentuk luapan keresahan.

“MELOYA bukan jawaban. Ini teriakan. Gue nulis lagu ini karena capek jadi penonton di negeri sendiri — dan kalau lagu ini bikin satu orang merasa nggak sendirian ngerasa gini, itu sudah cukup buat gue.”

Simbolisme Babi Hutan Bersenjata

Tidak hanya melalui musik dan lirik, pesan “MELOYA” juga diperkuat lewat artwork. Cover single ini menampilkan ilustrasi seekor babi hutan bersenjata dengan elemen tipografi Jepang.

Visual tersebut menjadi simbol yang merepresentasikan kekuasaan, agresi, dan situasi penuh tekanan yang menjadi napas utama lagu. Sementara itu, nama “MELOYA” sengaja dipilih dengan nuansa ambigu namun tajam, sejalan dengan karakter musik dan pesan yang dibawanya.

Dokudokuroro dan Ruang bagi Suara yang Tak Terdengar

Dokudokuroro merupakan proyek musik asal Indonesia yang mengeksplorasi alternative rock dengan lirik berbahasa Indonesia yang tajam dan reflektif.

Berangkat dari keresahan personal terhadap kondisi sosial-politik di Indonesia, karya-karya Dokudokuroro berusaha menjadi ruang bagi mereka yang merasa suaranya tidak didengar.

Dengan dirilisnya “MELOYA” di tengah momentum peringatan Kemerdekaan Indonesia 2026, Dokudokuroro seolah mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang terbebas dari penjajahan masa lalu, tetapi juga tentang keberanian menyuarakan keresahan di masa kini.

Detail Rilis

Artis: Dokudokuroro
Judul: MELOYA (Single)
Komposer & Penulis Lirik: Sandi Sundaya
Label: Vox Veritatis
Tanggal Rilis: Agustus 2026
UPC: 885000129919
Genre: Alternative Rock
Mood: Angry
Tema: Protes sosial-politik
Bahasa: Indonesia

Kontak Media:
Sandi Sundaya
Email: dokudokuroro@gmail.com
Telepon/WhatsApp: 087776777292

Suka artikel ini?
Traktir kopi buat penulisnya, yuk.
Traktir Kopi
Dukung kreator · E-Wallet
PILIH NOMINAL
Kirim info/artikel seputar band, wawancara rilisan, acara, reviews single/album atau opini ke alamgerilya@gmail.com