Feature

Dari Panggung Kampung ke Kassel: Jejak Eksentrik Musik Kasidah di Tanah Eropa

Avatar photo
148
×

Dari Panggung Kampung ke Kassel: Jejak Eksentrik Musik Kasidah di Tanah Eropa

Sebarkan artikel ini

MUSIX.BIZ.ID, SEMARANG, JAWA TENGAH — Di sebuah gang padat di pinggiran Semarang, jemari seorang wanita paruh baya bergerak lincah dan ritmis di atas permukaan kulit lembu yang meregang pada lingkar kayu rebana. Ketukannya konstan, berpadu dengan lengkingan gesekan biola yang meliuk-liuk, menciptakan harmoni yang magis: sebuah perkawinan bunyi antara tradisi musik gurun pasir dan cengkok khas pesisir Jawa.

Di ruangan yang dipenuhi piagam dan foto-foto usang itu, Nasida Ria sedang merawat detak jantung mereka. Sejak didirikan pada tahun 1975 oleh seorang ulama lokal bernama H. Mudrikah Zain, kelompok kasidah modern yang seluruh anggotanya adalah perempuan ini telah menolak untuk sekadar menjadi penghibur pengisi sunatan kampung. Tanpa disadari oleh khalayak luas, mereka sebenarnya adalah jurnalis dan antropolog sosial yang bergerak lewat nada.

Ketika belahan dunia lain di era 1970-an sedang gandrung pada balada cinta yang cengeng atau gemerlap disko, para perempuan Semarang ini justru berani menatap dunia dengan mata telanjang yang jujur. Mereka memotret kegelisahan peradaban, ketimpangan kelas, hingga ambisi merusak manusia, lalu mengemasnya menjadi untaian lirik yang visioner. Kisah perjalanan berdarah-darah mempertahankan idealisme ini pun baru saja diabadikan dalam film dokumenter bertajuk Nasida Ria: Sun Stage, sebuah memoar visual yang merekam bagaimana mereka bertahan melewati berbagai dekade politik Indonesia.

Mendengarkan kembali katalog lagu mereka hari ini terasa seperti membaca catatan harian tentang ramalan masa depan yang sayangnya terbukti benar. Di saat layar televisi dan lini masa kita hari ini dipenuhi oleh kepulan asap konflik yang kembali membara di berbagai belahan dunia, lirik lagu ikonik mereka yang berjudul “Perdamaian” mendadak terasa begitu menohok.

“Banyak yang cinta damai, tapi perang makin ramai,” senandung mereka puluhan tahun silam, menangkap ironi terdalam dari diplomasi modern kita. “Wahai kau anak manusia, ingin aman dan sentosa, tapi kau buat senjata, biaya berjuta-juta. Banyak gedung kau dirikan, kemudian kau hancurkan.”

Kalimat itu bukan sekadar bait pemanis lagu religius. Itu adalah kritik geopolitik yang presisi. Nasida Ria memahami bahwa kecenderungan manusia untuk merusak adalah siklus yang terus berulang, sebuah tragedi kemanusiaan di mana infrastruktur megah dibangun dengan peluh, hanya untuk diratakan kembali oleh ego sekelompok penguasa. Mereka juga tidak ragu menyuarakan pentingnya kebenaran informasi lewat lagu “Wartawan Ratu Dunia”, atau berbicara tentang pelestarian alam jauh sebelum isu perubahan iklim menjadi tren global.

Secara sosiologis, kehadiran Nasida Ria di atas panggung adalah sebuah pernyataan sikap yang kuat mengenai posisi perempuan dalam lanskap budaya Muslim Nusantara. Di bawah sorot lampu, dengan balutan busana muslimah yang bersahaja namun anggun, mereka memegang kendali penuh atas instrumen mereka sendiri.

Jika menengok ke belakang, cetak biru kekuatan ini bermula dari Formasi Pertama (Generasi 1) yang legendaris di awal pendirian mereka. Di bawah bimbingan H. Mudrikah Zain dan asuhan ibu angkat mereka, Hj. Alfiyah, sembilan talenta muda berdiri sebagai fondasi awal: Rien Jamain (salah satu vokalis utama yang paling karismatik), Mutoharoh, Khodijah, Nur Ain, Yakinah, Musyarofah, Umi Kholifah, Siti Mukaromah, dan Zainab. Bersama-sama, sembilan perempuan inilah yang pertama kali mendobrak tradisi, mengubah pakem kasidah murni menjadi orkestrasi pop-modern dengan jalinan gitar elektrik, organ, dan biola yang memikat kuping pendengar lintas iman.

Ketahanan budaya (cultural resilience) inilah yang akhirnya membawa gaung rebana mereka melintasi batas-batas samudera. Panggung internasional pertama berhasil mereka jejakkan di Berlin, Jerman Barat, pada tahun 1988 dalam acara International Heimatlieder Concert. Enam tahun berselang, tepatnya pada tahun 1994, mereka kembali melangkah ke tanah Eropa untuk tampil memukau dalam festival budaya bergengsi Die Garten der Horizonte di Berlin.

Puncak pembuktian lintas zaman mereka kemudian terjadi pada tahun 2022, ketika Nasida Ria terbang kembali ke Jerman untuk mengguncang panggung Documenta Fifteen di kota Kassel. Mengenakan gaun kuning-hitam yang mencolok, kelompok kasidah ini berhasil membuat ratusan warga lokal Jerman dan pengunjung Eropa ikut berjoget mengikuti ketukan rebana dan melodi lincah mereka. Di hadapan ribuan penonton Barat yang tidak memahami satu kata pun bahasa Indonesia, energi komunal dari musik mereka berhasil meruntuhkan dinding pembatas. Bahasa mereka adalah bahasa kemanusiaan yang universal.

Namun, perjalanan panjang ini bukan tanpa luka. Kehilangan salah satu pilar penting, Hj. Nadhiroh—sang violis legendaris dari generasi awal yang wafat setelah 41 tahun berkarya—sempat meninggalkan lubang besar di formasi lini depan mereka. Kehilangan itu tidak membuat mereka patah. Alih-alih meredup, Nasida Ria justru melakukan lompatan budaya yang tak terduga: merangkul generasi Z dan milenial lewat kolaborasi radikal.

Pada tahun 2024, dunia menyaksikan bagaimana grup kasidah legendaris ini melebur batas genre saat berkolaborasi dengan idol group JKT48 dalam proyek Ini Ramadan Kita. Mereka juga bersanding dengan kolektif musik kontemporer Mother Bank di panggung Synchronize Fest, hingga mengejutkan publik urban lewat panggung live eksperimental mereka bersama raksasa teknologi Google Gemini di kawasan Blok M, Jakarta.

Melalui proses regenerasi yang telaten, estafet itu kini bertumpu pada Formasi Terakhir (Generasi 4) yang menjadi wajah modern Nasida Ria hari ini. Dipimpin oleh para senior yang masih bertahan seperti Hj. Rien Jamain, Hj. Afuwah, dan Hj. Hamidah, panggung kini semarak oleh energi segar dari generasi penerus seperti Nazla Zain, Nida, Siti, dan rekan-rekan mudanya. Gadis-gadis muda ini kini berdiri di posisi yang sama dengan para pendahulu mereka, memegang instrumen yang sama, namun membawa aransemen yang lebih dinamis untuk menantang algoritma zaman digital.

Pada akhirnya, Nasida Ria mengajarkan kepada kita bahwa musik sejati tidak akan pernah kedaluwarsa oleh angka tahun. Ia adalah cermin besar yang diletakkan di hadapan wajah umat manusia, memaksa kita untuk berkaca tentang kesalahan apa yang terus kita ulang, dan harapan akan kedamaian apa yang masih layak untuk kita perjuangkan. Selama manusia masih gemar menciptakan riuh peperangan di atas bumi ini, selama itu pula senandung lirih tentang perdamaian dari Semarang akan terus mengalun, mengetuk pintu-pintu hati kita yang kerap membeku.