MUSIX.BIZ.ID — Di saat bangsa ini tengah menghadapi duka akibat bencana alam dan dinamika politik yang mewarnai kehidupan publik, Kurasi Musik vol. 56 hadir sebagai oase kreativitas dan solidaritas. Acara yang digelar di Bowl Coffee Connections, Jl. Asem Baris Raya No. 1, Tebet, Jakarta Selatan, menjadi perayaan karya yang tetap menempatkan empati sebagai fondasi utama.
Agenda ini akan berlangsung pada 14 Desember 2025, pukul 19.30 WIB, dengan menampilkan Pathetic Face, Madame Elz, Novi Andrea, dan Prass. Keempatnya diproyeksikan menghadirkan pengalaman musikal yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi ruang kontemplasi—menjadikan setiap nada sebagai doa dan setiap tepuk tangan sebagai wujud solidaritas.

Sebagai gigs kurasi terakhir di tahun 2025, momen ini juga menjadi refleksi perjalanan Kurasi Musik sepanjang tahun. “Kurasi Musik vol.56 ini gigs kurasi terakhir di tahun 2025. Mudah-mudahan di awal tahun 2026 kita bisa memberikan yang lebih baik lagi. Harapannya kurasi bisa selalu jadi tempat untuk musisi-musisi bersilaturahmi, bertukar info dan cerita, dan bertukar ilmu, untuk kemajuan musisi-musisi sendiri dan musik Indonesia secara keseluruhan. Harapan terbesarnya, kita bisa memberikan panggung yang lebih besar untuk teman-teman indie,” ujar Safir, Founder Kurasi Musik.
Harapan serupa juga disampaikan salah satu penggagas awal gerakan ini. “Berharap muncul lebih banyak musisi-musisi muda yang cerdas dari seluruh Nusantara,” kata Ully Dalimunthe, musisi, produser, entrepreneur, sekaligus salah satu pendiri Kurasi Musik. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan ekosistem musik membutuhkan ruang yang konsisten bagi talenta muda untuk tumbuh dan terhubung.

Dengan suasana intim namun penuh energi, Kurasi Musik vol. 56 diharapkan mampu menjadi penutup tahun yang kuat sekaligus pembuka jalan bagi geliat baru di tahun mendatang. Lebih dari sekadar pertunjukan, acara ini ingin mempertegas bahwa musik selalu memiliki peran sosial: menghubungkan manusia, memperkuat kepedulian, dan menciptakan ruang bersama untuk berkembang.
Catat tanggalnya—karena malam itu, musik bukan hanya akan terdengar, tetapi juga dirasakan sebagai bentuk kemanusiaan yang menyatukan.





