Uncategorized

Irzhal Efadh Bongkar Sisi Gelap Keterikatan Lewat Album HELL’S LIKE HEAVEN

Avatar photo
124
×

Irzhal Efadh Bongkar Sisi Gelap Keterikatan Lewat Album HELL’S LIKE HEAVEN

Sebarkan artikel ini

PURWOKERTO, MUSIX.BIZ.ID — Apa yang awalnya terasa seperti surga tidak selalu berakhir sebagai tempat yang nyaman. Ketertarikan bisa berubah menjadi keterikatan, keterikatan berkembang menjadi obsesi, dan pada titik tertentu justru membawa seseorang pada kelelahan emosional.

Gagasan itulah yang menjadi lanskap utama Irzhal Efadh dalam album penuh terbarunya, HELL’S LIKE HEAVEN, yang resmi dirilis pada Jumat, 11 September 2026.

Album ini hadir setelah Irzhal merilis lima single secara bertahap sepanjang tahun. Kini, keseluruhan cerita tersebut dirangkum dalam 12 lagu utama plus satu bonus track yang mengikuti perjalanan sebuah hubungan dari rasa penasaran dan ketertarikan hingga berujung pada emotional collapse.

Bagi Irzhal, heaven dan hell bukanlah dua kondisi yang sepenuhnya bertolak belakang. Keduanya bisa hadir dalam pengalaman yang sama.

“HEAVEN dianalogikan sebagai keindahan dalam fase percintaan sementara HELL dianalogikan sebagai fase yang stressful dalam percintaan,” ujar Irzhal.

Konsep tersebut membuat HELL’S LIKE HEAVEN tidak sekadar menjadi album tentang hubungan romantis. Justru, Irzhal mempertanyakan kembali batas antara cinta, keintiman, hasrat, keterikatan, dan obsesi.

“Aku bahkan sebenarnya tidak yakin bahwa album ini berbicara tentang cinta,” katanya.

Dalam album ini, berbagai bentuk intimacy dan gesture intim digunakan untuk memperkuat sisi toxic dan sinner. Sementara attachment digambarkan melalui pola seseorang yang terus kembali, meski sadar bahwa hubungan tersebut tidak berada dalam kondisi yang sehat.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah kedekatan yang terasa sangat intens otomatis bisa disebut cinta?

Tiga Lagu yang Paling Personal

Dari keseluruhan materi, terdapat sejumlah lagu yang memiliki kedekatan personal dengan perjalanan Irzhal, di antaranya “WHY”, “COMPLICATED”, dan “I SHOULD’VE LOVED YOU MORE”.

“WHY” membawa cerita tentang kebingungan ketika seseorang terus berada dalam posisi sebagai nomor dua dalam sebuah hubungan. Situasi menjadi semakin rumit ketika sebuah janji ternyata dilanggar.

Sementara “COMPLICATED” berbicara tentang seseorang yang tidak memahami bagaimana cinta seharusnya bekerja. Alih-alih menawarkan jawaban sederhana, lagu tersebut membawa pendengar ke dalam situasi hubungan yang semakin sulit dipahami.

Kemudian ada “I SHOULD’VE LOVED YOU MORE”. Judulnya mungkin terdengar seperti ungkapan penyesalan, tetapi gagasan di baliknya justru lebih kompleks.

Irzhal mempertanyakan apa yang mungkin terjadi jika dirinya memilih pergi. Apakah seseorang seharusnya mencintai pasangannya lebih dalam agar orang tersebut mampu melepaskan apa yang selama ini telah dimilikinya?

Ketiga lagu tersebut pada akhirnya bertemu pada persoalan yang sama: hubungan yang tidak memiliki keseimbangan.

“Love is healthy balance of giving and receiving between partners,” ujar Irzhal.

Indie Pop dengan Atmosfer Malam

Secara musikal, HELL’S LIKE HEAVEN bergerak di wilayah Indie Pop dengan pendekatan yang emosional dan intim.

Irzhal membangun lanskap suaranya melalui tekstur soft indie, lapisan synth yang dreamy, ruang ambient, drum yang playful sekaligus punchy, serta karakter vokal yang intim namun tetap memiliki ruang yang luas.

Produksi tersebut menciptakan atmosfer seperti malam yang hangat tetapi sekaligus terisolasi. Sebuah ruang yang cocok dengan tema besar album: keinginan, kesepian, kedekatan, serta sesuatu yang terasa dekat tetapi tidak pernah benar-benar bisa dimiliki.

Di balik seluruh konsep tersebut, penyelesaian album ini juga menjadi pencapaian tersendiri bagi Irzhal yang mengerjakan sebagian besar proses kreatif dan produksinya secara mandiri.

Namun, ia tidak ingin HELL’S LIKE HEAVEN berhenti sebagai catatan personal mengenai sebuah hubungan.

Album ini juga membawa pesan tentang konsekuensi dari hubungan terlarang, perselingkuhan, serta keterikatan yang sejak awal dibangun di atas sesuatu yang keliru.

“Membuat karya adalah privilege, menyelesaikannya pun privilege bagiku. Aku ingin pendengar segera sadar bahwa cinta terlarang adalah perilaku yang sangat menguras energi. Album ini bukan untuk merayakan apa yang salah, tapi untuk menyadarkan bahwa cepat atau lambat, kita akan terbunuh oleh apa yang salah dari apa yang kita lakukan,” ungkapnya.

Pada akhirnya, HELL’S LIKE HEAVEN tidak berusaha membuat hubungan yang salah terlihat romantis. Irzhal justru mengajak pendengar masuk lebih jauh ke dalam pengalaman tersebut—merasakan ketertarikan, menikmati kedekatan, mengalami ketergantungan dan kebingungan, sebelum akhirnya berhadapan dengan konsekuensi emosional yang mungkin muncul.

Sesuatu yang pada awalnya terasa seperti heaven bisa saja perlahan membawa seseorang semakin dekat dengan hell.

HELL’S LIKE HEAVEN kini telah tersedia di berbagai layanan streaming digital.

Dengarkan album: orcd.co/hells_like_heaven

Tentang Irzhal Efadh

Irzhal Efadh merupakan penyanyi, penulis lagu, produser musik, sekaligus pendiri label independen COMING HERE FOR YOU (CHFY). Dalam proses berkaryanya, Irzhal mengerjakan sebagian besar materi secara mandiri, mulai dari proses kreatif hingga produksi.

Musiknya mengeksplorasi tema hubungan, kehilangan, desire, dan refleksi diri melalui pendekatan electronic pop, indie pop, serta tekstur musik yang intim.

HELL’S LIKE HEAVEN menjadi album penuh yang merangkum eksplorasi tersebut dalam sebuah perjalanan emosional dari ketertarikan hingga emotional collapse.

Suka artikel ini?
Traktir kopi buat penulisnya, yuk.
Traktir Kopi
Dukung kreator · E-Wallet
PILIH NOMINAL
Kirim info/artikel seputar band, wawancara rilisan, acara, reviews single/album atau opini ke alamgerilya@gmail.com