NewsRelease

Binsar Bayou & Mahir Blues, Ketika “Waktu Ku Kaya” Jadi Cermin Kehidupan

Avatar photo
265
×

Binsar Bayou & Mahir Blues, Ketika “Waktu Ku Kaya” Jadi Cermin Kehidupan

Sebarkan artikel ini

MUSIX.BIZ.ID – Di penghujung Agustus 2025, Binsar Bayou kembali menorehkan langkah musikalnya. Vokalis yang dikenal lewat kiprahnya bersama band legendaris Bayou itu merilis single solo terbarunya berjudul “Waktu Ku Kaya” — sebuah lagu yang tak hanya memanjakan telinga, tapi juga mengetuk sisi emosional pendengarnya.

Lagu ini sudah bisa dinikmati di berbagai platform digital seperti Spotify, iTunes, dan YouTube. Dengan gaya khasnya yang lembut namun penuh perasaan, Binsar membawa nuansa Ballad Pop Rock yang kuat namun tetap terasa personal.

“Saya merasa kembali bersemangat untuk rilis single solo, setelah beberapa waktu lalu merilis Korea Korea dan Aku Suka Koplo,” ujar Binsar ketika ditemui di Studio Harapan Indah, dengan mata berbinar penuh semangat.

Gandeng Mahir Blues, Gitaris yang Juga Advokat
Ada yang menarik dari rilisan kali ini. Binsar tidak sendiri. Ia menggandeng Mahir Blues, seorang gitaris, vokalis, sekaligus komandan band Mahir & The Alligators — nama yang sudah lama dikenal di kalangan penggemar blues tanah air.

Kolaborasi keduanya terasa unik. Mahir, dengan karakter permainan gitar yang ekspresif, memberi sentuhan blues yang menyeimbangkan nuansa pop rock dalam lagu ini. Hasilnya: harmoni yang mengalun halus namun punya gigitan emosi yang dalam.

Tak hanya musisi, Mahir Blues juga dikenal sebagai seorang advokat, sekaligus produser, komposer, dan arranger yang produktif. “Musik bagi saya adalah ruang kebebasan. Kolaborasi dengan Binsar ini terasa jujur dan mengalir,” ungkap Mahir.

Kisah di Balik Studio
Dalam proses produksinya, Waktu Ku Kaya juga melibatkan sejumlah nama penting di balik layar. Bayu Wargo berperan sebagai produser eksekutif, sementara Roosa Valentino bertanggung jawab pada rekaman, mixing, dan mastering.

Binsar bercerita bahwa ide lagu ini lahir dari refleksi kehidupan nyata.
“Ini tentang seseorang yang dicintai saat dia berada di masa jaya, tapi ditinggalkan saat jatuh dan tak punya apa-apa. Ya, begitulah realita hidup,” katanya pelan, seolah mengingat masa lalu.

Musik dan lirik dalam Waktu Ku Kaya menjadi kombinasi yang menggugah — melodi sendu berpadu dengan narasi kejujuran yang sederhana namun mMusik, Rakyat, dan Suara yang Tak Pernah Padam

Menariknya, di sela pembicaraan tentang musik, Binsar juga menyinggung berbagai isu sosial yang tengah ramai. Saat ditanya tentang polemik pemungutan royalti, ia berpendapat bahwa sistemnya perlu dievaluasi tanpa mengorbankan musisi.

“Harus ada win-win solution. Saya tidak setuju dengan direct license karena akan sulit dikontrol. LMKN sebaiknya tetap lembaga resmi yang memungut royalti, tapi harus transparan dan akuntabel,” jelasnya tegas.

Soal demo protes kenaikan gaji DPR RI, Binsar tak ragu menyuarakan empati terhadap rakyat kecil.

“Rakyat sedang susah. Pajak naik, rekening diblokir, banyak pengangguran. Wajar kalau mereka marah. Tapi demo harus damai, jangan anarkis,” ujarnya dengan nada prihatin.

Sementara Mahir Blues menambahkan perspektif menarik tentang peran publik dalam era digital.

“Sekarang rakyat punya kekuatan lewat media sosial. Pemerintah dan DPR tak bisa sembarangan lagi. Kontrol sosial ada di tangan masyarakat,” katanya mantap.

Musik Tak Pernah Lekang oleh Waktu
Meski diskusi sempat meluas ke berbagai topik sosial, keduanya sepakat pada satu hal: musik adalah napas kehidupan.

“Sebagai seniman, kita harus tetap konsisten. Musik tidak akan pernah mati, tak lekang oleh waktu,” tutup Binsar sambil tersenyum.

Kolaborasi antara Binsar Bayou dan Mahir Blues di Waktu Ku Kaya bukan sekadar karya musik — tapi potret perjalanan dua musisi yang tetap setia pada idealisme dan kejujuran dalam berkarya.

Lagu ini bukan hanya tentang kekayaan materi, tapi juga tentang kehilangan, harapan, dan kebangkitan. Dan mungkin, di antara lirik dan petikan gitar yang mengalun, kita bisa menemukan secuil refleksi diri kita sendiri.