MUSIX.BIZ.ID – Suasana hangat Bowl Coffee Connection di Tebet pada Minggu malam (19/10) dipenuhi dentuman musik dan percakapan inspiratif. Program rutin Kurasi Musik kembali hadir dengan edisi ke-52, mengangkat tema yang relevan bagi pelaku industri: “Bisnis dan Idealisme dalam Musik.”
Dipandu oleh Safir sebagai MC, edisi kali ini dikurasi oleh Ully Dalimunthe, Eno Dimedjo (Reallist Media), Bugi Putranto, dan Nazriel (Mute Musik). Keempatnya sepakat bahwa Kurasi Musik bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan ruang aman bagi musisi untuk tumbuh, bereksperimen, dan memahami industri dari berbagai sisi.
“Kurasi Musik ini ruang eksplorasi yang serius. Di sini musisi bisa tumbuh tanpa kehilangan jati diri,” ujar Ully Dalimunthe.
Pop Alternatif hingga Britpop
Sebagai pembuka, Batavian Roulette — band pop-alternatif asal Jakarta — menghadirkan energi segar lewat dua lagu rilisan dan satu nomor baru berjudul “Hari yang Terlupa.” Band yang terbentuk pada 2022 ini menampilkan warna musik modern yang terinspirasi dari The 1975 dan Paramore, dibawakan dengan karakter khas mereka.
Panggung kemudian bergeser ke nuansa pop-rock lewat penampilan Moonage. Band ini membawakan empat lagu: “Molly,” “Ink I Spilled,” “Terbiasalah,” dan “Still Here.” Dengan aransemen yang kaya akan nuansa britpop dan lirik emosional, Moonage memadukan pengaruh musik Inggris dan Amerika dalam performa yang eksplosif.



Talkshow: Menemukan Titik Temu antara Cita dan Realita
Tak hanya hiburan, Kurasi Musik Vol. 52 juga menghadirkan sesi diskusi bertajuk “Bisnis dan Idealisme Musik.” Dalam talkshow ini, para kurator dan musisi membahas tantangan menjaga keseimbangan antara nilai artistik dan kebutuhan komersial di tengah industri yang kompetitif.
“Tantangannya adalah tetap idealis tapi realistis,” ungkap Eno Dimedjo dari Reallist Media.
AVERY dan Filosofi Ketidaksempurnaan
Sesi berikutnya diisi oleh AVERY, band yang menonjol dengan karakter vokal kuat dan filosofi unik: “Perfection will not be completed without imperfections itself.” Dalam penampilannya, mereka membawakan empat lagu, termasuk kolaborasi spesial bersama AIU (mantan vokalis Cokelat Band) dalam lagu “Hidup Hanya Sekali.” Harmoni vokal antara AIU dan AVERY menghadirkan momen paling emosional malam itu.
Aufa Menutup Malam dengan Nostalgia Modern
Sebagai penutup, tampil Aufa, penyanyi dan penulis lagu dengan nuansa retro khas era 70–80-an. Ia membawakan empat lagu dari album Brand New Age (2024): “Brand New Age,” “Time Will Tell,” “Other Times,” dan “Kemilau.”
Dengan balutan jazz dan pop modern, Aufa berhasil membawa penonton dalam perjalanan penuh nostalgia, menutup malam dengan suasana hangat dan reflektif.
“Bermusik itu bukan hanya soal mencipta lagu, tapi juga bagaimana mengenalkan karya secara konsisten,” tutur Bugi Putranto.
Nazriel dari Mute Musik menambahkan, “Musisi sekarang nggak cukup hanya membuat lagu dan aransemen, tapi juga harus bisa jadi content creator untuk mem-branding karya mereka.”
Menjaga Nyala Ruang Kreatif
Edisi ke-52 ini menjadi bukti bahwa Kurasi Musik tetap menjadi ruang penting bagi musisi independen Indonesia — tempat di mana idealisme, profesionalitas, dan kolaborasi bisa berjalan beriringan. Di tengah perubahan industri, semangat untuk tetap jujur pada karya dan terbuka pada dunia bisnis menjadi napas yang menjaga musik tetap hidup.





